Lembaran Baru untuk Joe
Akhirnya saya bertemu Joe kembali. Dia adalah teman yang beberapa bulan lalu saya tulis sedang bemasalah dengan drugs. Kamis, 28 Agustus lalu tepatnya pukul 5 sore, saya bertemu dengannya lagi dalam suasana kemerdekaan. Merdeka dari drugs dan peraturan yang kadang terasa memenjarakan. Kami bertemu di bandara, sesaat sebelum dia terbang kembali ke Jakarta, mungkin untuk selamanya.
Beberapa hari sebelumnya ketika saya mendapatkan kabar "kemerdekaan" tersebut, saya berniat mau kasih hadiah buatnya. Tapi bingung juga, karena saya tak tahu mau kasih apa yang paling pas untuknya sebagai tanda dimulainya hidup baru. Apa ya?
Sampai akhirnya kira-kira tiga puluh menit dari batas janji saya bertemu dengannya, dalam perjalanan pulang dari kantor kedua saya, tiba-tiba terbersit dalam pikiran. Hidup baru sama dengan membuka lembaran baru. Buku!
Maka saya mulai berburu buku yang punya desain kover yang spesial. Saya teringat pernah membeli sebuah buku bersampul hard-cover berdesain batik modern berbagai warna di sebuah toko buku. Dulu saya juga pernah membelinya untuk diari saya. Tapi ternyata itu sudah tak ada lagi. Saya tahu masih ada satu toko serupa yang saya harap saya masih bisa temukan buku itu di sana.
Dan benar! Malah ada yang sama persis dengan buku yang pernah saya beli! Aha! Tanpa pikir panjang saya langsung ambil buku itu dan satu lagi dengan desain berbeda untuk diri saya sendiri. Saya senang!
Ketika saya sedang "meminang" dua buku itu di kasir, Dimas tiba-tiba menelpon saya. Dia adalah salah satu teman saya di IIWC yang juga berniat sama untuk bertemu dengan Joe di bandara. Dia mengingatkan waktu yang mepet. Aduh, ternyata tinggal beberapa menit lagi dari deadline pertemuan kami. Saya mulai panik, khawatir tak bisa bertemu dengan Joe lagi. Mana saya masih berniat untuk bikin kartu ucapan buatan sendiri lagi!
Untunglah saya sampai di kantor IIWC tepat waktu dan bandara hanya dua menit bermotor dari sini. Joe sudah menelpon bertanya jadi datang atau tidak, sementara dia sudah menunggu di depan pintu keberangkatan.
Sebelum saya berangkat ke sana, saya buru-buru bikin prakarya sederhana untuk kartu ucapan yang saya maksud. Dari kertas buram, saya potong tak beraturan sedemikian rupa berhias lingkat-lingkar warna-warni membingkai bentuk potongan. Jadi deh seperti pigura kertas kuno! Setidaknya anggaplah begitu…hehehe…
Setelah itu kami pergi berlima, dengan tiga teman dari IIWC lain, ke bandara memenuhi janji. Selamat jalan, Joe. Selamat menempuh hidup dan tantangan yang baru, yang merdeka!

Recent Comments