September 01, 2008

Lembaran Baru untuk Joe

Akhirnya saya bertemu Joe kembali. Dia adalah teman yang beberapa bulan lalu saya tulis sedang bemasalah dengan drugs. Kamis, 28 Agustus lalu tepatnya pukul 5 sore, saya bertemu dengannya lagi dalam suasana kemerdekaan. Merdeka dari drugs dan peraturan yang kadang terasa memenjarakan. Kami bertemu di bandara, sesaat sebelum dia terbang kembali ke Jakarta, mungkin untuk selamanya.

Beberapa hari sebelumnya ketika saya mendapatkan kabar "kemerdekaan" tersebut, saya berniat mau kasih hadiah buatnya. Tapi bingung juga, karena saya tak tahu mau kasih apa yang paling pas untuknya sebagai tanda dimulainya hidup baru. Apa ya?

Sampai akhirnya kira-kira tiga puluh menit dari batas janji saya bertemu dengannya, dalam perjalanan pulang dari kantor kedua saya, tiba-tiba terbersit dalam pikiran. Hidup baru sama dengan membuka lembaran baru. Buku!

Maka saya mulai berburu buku yang punya desain kover yang spesial. Saya teringat pernah membeli sebuah buku bersampul hard-cover berdesain batik modern berbagai warna di sebuah toko buku. Dulu saya juga pernah membelinya untuk diari saya. Tapi ternyata itu sudah tak ada lagi. Saya tahu masih ada satu toko serupa yang saya harap saya masih bisa temukan buku itu di sana.

Dan benar! Malah ada yang sama persis dengan buku yang pernah saya beli! Aha! Tanpa pikir panjang saya langsung ambil buku itu dan satu lagi dengan desain berbeda untuk diri saya sendiri. Saya senang!

Ketika saya sedang "meminang" dua buku itu di kasir, Dimas tiba-tiba menelpon saya. Dia adalah salah satu teman saya di IIWC yang juga berniat sama untuk bertemu dengan Joe di bandara. Dia mengingatkan waktu yang mepet. Aduh, ternyata tinggal beberapa menit lagi dari deadline pertemuan kami. Saya mulai panik, khawatir tak bisa bertemu dengan Joe lagi. Mana saya masih berniat untuk bikin kartu ucapan buatan sendiri lagi!

Untunglah saya sampai di kantor IIWC tepat waktu dan bandara hanya dua menit bermotor dari sini. Joe sudah menelpon bertanya jadi datang atau tidak, sementara dia sudah menunggu di depan pintu keberangkatan.

Sebelum saya berangkat ke sana, saya buru-buru bikin prakarya sederhana untuk kartu ucapan yang saya maksud. Dari kertas buram, saya potong tak beraturan sedemikian rupa berhias lingkat-lingkar warna-warni membingkai bentuk potongan. Jadi deh seperti pigura kertas kuno! Setidaknya anggaplah begitu…hehehe…

Setelah itu kami pergi berlima, dengan tiga teman dari IIWC lain, ke bandara memenuhi janji. Selamat jalan, Joe. Selamat menempuh hidup dan tantangan yang baru, yang merdeka!

                            

August 20, 2008

Tentang Film Kado Hari Jadi

Kamis, 14 Agustus 2008, jam 7 malam, saya dan teman-teman dari IIWC ikutan nonton film di Widya Mitra Semarang, tepatnya di Jl. Singosari II no 12. Di sini adalah tempat nongkrongnya teman-teman siapa saja yang suka nonton film bukan populer. Jadi jangan harap anda akan menemukan film yang sama dengan film di bioskop pada waktu yang bersamaan. Karena teman-teman di Widya Mitra akan memutar film-film dengan tema tertentu sesuai dengan kesepakatan atau usulan siapapun. Bingung nggak?

Anyway, Kamis malam kemarin yang kami tonton adalah sebuah film besutan perdana Paul Agusta, berjudul Kado Hari Jadi. Nama Agusta sendiri mungkin bukan orang asing di dunia penerjemahan Indonesia, karena ibunya adalah salah seorang penerjemah yang konon memiliki bayaran termahal di sini. Dan tentang screening film ini, saya sudah dapat undangannya lewat email sejak sebulan lebih berlalu dan saya bisa pilih di beberapa kota dengan jadwal yang sudah ditentukan. Namun rupanya saya baru berkesempatan untuk menonton semalam. Itupun kondisinya sudah bukan screening lagi. Tapi memang nonton! Hehehe…

Satu lagi, saya telat datang, jadinya nggak bisa komen banyak tentang film itu sendiri. Yang bisa saya rekam sejak satu setengah jam terakhir adalah film ini berkisah tentang seorang perempuan yang jadi stress karena menghadapi kenyataan suaminya menjadi cac at dalam sebuah kecelakaan. Disitu ada adegan balas dendam yang memang sadis. Si perempuan (mungkin dibantu oleh teman-temannya) menyekap si pelaku tabrakan di sebuah kamar. Diikat, disiksa hingga menjadi cacat seperti yang diperoleh sang suami. Termasuk kecacatan dalam hal seks. Namun untuk urusan yang satu ini agak unik. Mungkin karena sang suami sudah tidak bisa melayani si istri, maka si istri menyiksa dengan oral seks untuk si penabrak. Mungkin bagi yang belum nonton akan berkata, enak dunk! Tapi kalau ditonton lebih dalam lagi, buat saya itu tetap saja sadis. Karena si istri tidak melakukannya karena suka atau semacam itu apalagi untuk kepuasan

.

Sama sekali tidak! Tapi lebih karena ingin balas dendam, penuh dengan kebencian dan amarah serta diiringi siksaan fisik. Dan film ini berakhir dengan dibuangnya pelaku tabrakan itu ke sebuah belantara dalam kondisi hampir telanjang. Adegan ini mengingatkan saya pada adegan penyiksaan di film G 30 S PKI.

Secara umum, film ini, untuk ukuran indonesia, vulgar! Honestly, im not sure if it’s allowed to be shown in Indonesian theatre. Vulgar yang saya maksud bukanlah vulgar dalam arti porno. Tapi vulgar secara literal. Ada adegan penyiksaan (namanya juga genre "slasher") seperti mengumbar darah yang berceceran di mana-mana, make up "hasil" kesadisan juga lumayan keren seperti nyata, serta sedikit seks (yang tidak porno tuh!).

Setelah pemutaran film ini, ada sedikit diskusi. Ternyata reaksi teman-teman juga beragam. Ada yang menyebut bahwa untuk jenis film slasher di Indonesia, Kado Hari Jadi masih kurang kejam. Memang benar sih! Coba tonton film-film asing yang ada adegan pemotongan penis, pemenggalan kepala, penusukan perut, dll. (ps. Maaf tak ada rekomendasi judul film dari saya untuk genre ini). Di sisi lain ada juga teman yang berpendapat lebih unik. Bahwa ada orang-orang yang secara psikologis akan merasa lebih puas dan senang saat bisa melihat bahkan melakukan hal-hal yang sadis. Nah kemudian timbul pertanyaan, lalu siapa yang ada dalam posisi ini? Apakah si pembuat film, penulis skenario, yang punya ide cerita, penonton, atau siapa? Hehehehe….

Buat saya, film ini cukuplah sebagai sebuah ekspresi eksperimental dari sebuah genre baru di dunia perfilman Indonesia. Hanya ada satu saran bagi yang tidak tegaan melihat darah dan adegan kekejaman. Sebaiknya anda tak menonton Kado Hari Jadi. <metta dian>

August 07, 2008

PEA Yang Baru Buat Saya

Alah! Sebenarnya saya agak gimana gitu untuk menulis tentang PEA, salah satu penulis favorit saya. Hehehe….ada beberapa orang teman yang tahu betul tentang saya yang menyukai karyanya. Mungkin klasik ya, karena terlalu banyak yang menggemari tulisannya. Saya sederhana saja, saya pertama kali berkenalan dengan buku-buku PEA ketika saya sedang patah hati dan pas sekali ketika membaca salah satu cerpennya Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta.

Kemudian saya mulai berburu karyanya. Meski belum punya semua tapi ada lah minimal tiga bukunya yang saya punya. Dan itu memberikan sebuah kejutan tersendiri buat saya karena ternyata ‘berdekatan’ dengan karya seseorang membuat saya sensi dengan perubahan-perubahan gaya bertuturnya. Beberapa buku kumpulan cerpennya, seperti yang pernah saya baca ulasan karyanya di sebuah koran, disebut-sebut miskin cerita. Meski sangat kaya akan olah rasa pada penokohan di dalam cerita. Lebih sederhanya saya memaknai itu sebagai suatu hal yang benar dalam arti positif (bagaimanapun saya tetap menyukainya…)

Memang karya PEA miskin cerita karena kebanyakan ceritanya berkutat dengan pergolakan emosi serta pikiran satu tokoh saja dalam cerita. Beberapa mungkin lebih dari satu tokoh. Saya justru melihat itu sebagai kekuatan cerita, karena tokoh yang diciptakan justru bisa dengan mudah ‘menusuk’ perasaan pembaca, bila tak bisa dibilang sekedar mengena. Bermain-main dengan perasaan. Mengandung kejutan meski minim dialog.

Itu yang saya rasakan saat membaca karya-karya PEA di buku-buku kumcernya. Kemudian saya sempat membaca novelnya berjudul Bunda. Novel ini adalah novel adaptasi dari sinetron Bunda. Jadi terbalik, biasanya dari buku yang di layar kaca atau lebarkan. Aduh, nggak banget deh. Bukan PEA banget. Seperti ada tarik menarik idealisme gaya menulis PEA dan sinetron Bunda yang sangat populer. Jadinya nggak jelas. Tapi kemudian rasa ketaktertarikan saya pada Bunda, tegantikan dengan novel bersampul merahnya dan bergambar karung. Kalau tak salah ingat judulnya adalah “Seperti Membeli Cinta Dalam Karung”. Wuihh….keren! Sekaligus beda dengan karya PEA yang sebelumnya saya baca. Dan itu tetap keren loh.

Dan tanggal 3 Agustus lalu saya kembali membaca cerpennya di salah satu media yang berjudul Berburu Beruang. Asem! Berubah dia! Tidak lagi berkutat dengan kesibukan keresahan dan kedalamam hati serta pikiran tokoh di dalamnya. Bertuturnya juga lebih ringan dan segar. Tidak kelam. Di cerpen ini sepertinya dia benar-benar ingin membuktikan bisa bermetamorfosis. Eh, apa saya bilang tadi? Ber-meta-….apa? Hahahaha…. Saya narsis!

Baiklah, saya harus jujur, kadang saya suka shock dan susah menerima perubahan atas sesuatu yang saya sukai. Dan itu terjadi pada PEA di novel pertamanya. Tapi sepertinya akhirnya saya bisa bilang, saya tetap suka PEA, baik yang dulu dan sekarang. Cieeee…. <metta dian>

Ps. PEA adalah Puthut E.A.